RUMAHKU ISTANAKU

Sedari awal kelahiranku, aku berharap dapat dibesarkan dan dibimbing oleh orang tua yang bijak. Dan betapa beruntungnya aku, Begitu kulahir aku merasakan kasih sayang yang teramat sangat besar dari orang tuaku. Kasih sayang itu pun bukan hanya berlaku pada ku saja, tetapi perlakuan yang sama diberikan kepada seluruh saudara-saudara ku. Apa saja yang kami inginkan selalu di turuti oleh mereka, semua fasilitas pasti kami dapat jika kami mengingin kan nya.
Tetapi ada satu hal yang kami ingin kan dan belum tercapai sampai saat ini. Kami ingin sekali memiliki rumah sendiri, walau pun rumah itu hanya terbuat dari gedek bambu, beralaskan tanah dan beratap jerami, kami siap untuk itu. Kami akan sangat bahagia jika apa yang kami harapkan sejak lama dapat ter realisasikan. Rasa nyaman dan rasa kekeluargaan akan lebih terasa kental.
Walau pun rumah kami saat ini terbuat dari sangkar emas dan di hiasi dengan lampu-lampu berlian yang menyilau kan, tetapi apalah guna nya kalau hak-hak dan kebebasan kami terpenjara oleh sang pemilik rumah.
Empat tahun telah berlalu, wajah-wajah baru dalam keluarga ku mulai bermunculan, rumah ini pun semakin tak nyaman lagi rasa nya. Aku merasakan beban yang teramat besar di jiwaku, aku gak pengen hal-hal yang buruk di alami oleh saudara-saudara ku yang baru. Tetapi jika aku sendirian, aku gak mampu membebaskan mereka. Apa yang harus ku perbuat???
Orang tua ku yang ku anggap mampu untuk mengayomi keluarga ini, semakin lama semakin menjauh dari kami. Mereka terkesan tidak perduli lagi dengan kami, fasilitas yang kami dapat pun tidak sebaik dahulu. Akibat nya saudaraku mulai gak betah di rumah ini, mereka selalu keluar untuk mendapat apa yang mereka ingin kan.
Suatu ketika beberapa dari saudara baru ku ber tanya ‘’kenapa kita harus tinggal di tempat seperti ini??sepertinya kita mampu untuk memiliki rumah sendiri, tetapi mengapa kita harus tinggal di tempat orang lain??emang orang tua kita kemana sih??’’Rasa sedih, gundah dan kebingungan ku alami saat itu, apa yang harus ku katakan??harus kah aku mengatakan yang  sejujur nya??atau harus kah aku membohongi nya untuk menutupi aib keluarga??’’tetapi ku fikir mereka harus tau kondisi ini.
Tanpa fikir panjang ku ungkapkan apa yang terjadi sebenar nya, tersontak kaget mereka mendengar pernyataan itu Tetapi memang ini lah kenyataan yang terjadi. Tak lama waktu berselang, beberapa dari mereka mangajak ku untuk membuat sebuah forum di tingkatan kami yang di khusus kan untuk membahas hal ini.
Lama banget rasa nya gak ngerasain hal seperti ini, aku bahagia karena semua sau dara berkumpul dan ngobrol bareng di sini. Ternyata dugaan ku terhadap mereka melenceng, tadi nya aku ber fikir bahwa mereka sudah tidak perduli lagi dengan keluarga ini. Ternyata dalam realita yang ku temui mereka masih mau diajak kerjasama untuk memikir kan keluarga besar ini.
Ikatan persaudaraan semakin di eratkan sehingga tidak ada lagi yang saling bermusuhan dan semua dapat untuk saling menghargai. Dalam beberapa kali perbincangan kami menyatakan bahwa kami telah siap untuk memiliki rumah sendiri, walau rumah itu tidak se bagus saat ini tetapi kami telah siap. Kami gak tahan lagi hidup terbelenggu seperti ini,  kami gak mau lagi tinggal di tempat ini. Saat ini kami nyatakan dengan tegas bahwa kami ingin pindah dari tempat ini, kami ingin RUMAH SENDIRI SEKARANG JUGA.  ( I AM A PIG MAN )

~ oleh angkot2net pada Desember 28, 2007.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.