Senandung Yang Melawan

Sebatang rokok mild melekat di bibirnya. Dia menikmati rokok itu perlahan lahan. Sesekali kaos motif batik yang dipakainya di kibas kibaskan untuk melepas gerah. “Saat ini, kami sedang fokus untuk menyelesaikan album perdana Kromodiharjo yang sudah tertunda cukup lama”, ujarnya ringan. Diteruskannya lagi kegiatan menghisap rokok mild tadi. Merokok sepertinya sudah menjadi kewajiban bagi dia.
Pemuda berumur 21 tahun itu, sejak masih SMU biasa dipanggil Waway oleh kawan kawannya. Penampilannya selalu semau sendiri. Celana jinsnya bolong, sudah bertambal di sana – sini. Jaket jins yang tidak kalah keruan bentuknya selalu tersandang di tubuh. Rambutnya dipotong ala Rod Stewart. Kesannya seperti seorang pemalas kelas wahid memang. Tapi saat ditanya tentang konsep album perdana Kromodiharjo, dia menjawab dengan berapi api.
“Untuk musik, mungkin kami lebih cocok jika masuk ke dalam genre melodict punk. Karena memang cenderung kesana musiknya”.
“Tapi tetap ada unsur unsur musim lain dalam musik kami, seperti Rock `n Roll, Oi street punk, dan juga riff – riff gitar ala speed metal. Karena memang kami bertiga memiliki referensi yang berbeda.” Lanjutnya sumringah.
Kromodiharjo terbentuk sudah cukup lama, sejak Desember tahun 2004. Sejak awal berdiri hingga sekarang mereka sudah berkali kali bongkar pasang personil. Hingga saat ini tinggal tersisa tiga orang saja yang masih bertahan.
“Pada awalnya hanya aku dan otenk saja. Dulu sih namanya masih Top Day, trus berubah jadi Kromodiharjo waktu kami main di launching album Kepal S.P.I.”
Sejak saat itu mereka sering melanglang dari satu acara ke acara lainnya. Dari panggung kampus sampai ke trotoar pinggir jalan. Dari acara gratisan antar teman hingga dibayar dengan pisang setandan.
“Mungkin kami lebih banyak merasakan susah di Kromodiharjo. Jadi saat kami mengalami konflik, seperti perginya beberapa personil yang posisi dan sumbangsihnya cukup krusial bagi band, kami bisa tetap bertahan.” Ujarnyanya pelan.
Mata waway menerawang, dia menyulut lagi sebatang rokok mild terakhir. Dia remas bungkusnya yang sudah kosong. Dibuangnya remasan itu ke lantai kamar yang memang sudah kotor penuh ceceran puntung rokok. Sambil menghisap rokoknya dia berkata,
“Untuk saat ini target utama kami adalah mengeksiskan diri dengan cara menyelesaikan album tadi.Biar semua orang tahu kami masih bisa tetap bertahan dan ngelawan diterpa berbagai masalah, baik dari internal band maupun eksternal”, dia berkata optimis.
“Juga kami sendiri masih berharap agar pak vokalis kami tercinta mau kembali ke band ….hehehe”, dia mengakhiri pembicaraan sore itu, lalu bangkit dan menuju ke WC. “Mau buang hajat besar dulu ya…”.  (9.0.1.2.5)

~ oleh angkot2net pada Desember 28, 2007.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.