Simpang Empat
Aku selalu melewati simpang empat itu jika ingin menuju ke tempat kawanku. Ada berbagai macam orang disitu, yang bisa kuamati. Lampu lalu lintas di sudut jalannya, membantu aku mengamati berbagai macam orang. Dari cara berpakaiannya saja, aku bisa menemukan bermacam orang yang melintasi simpang empat itu.
Ada seorang yang mengenakan sarung, menjelang tengah hari dia akan memacu kendaraannya cepat-cepat. Tak lama setelahnya si orang bersarung ini lewat lagi, sekarang kecepatan kendaraannya biasa-biasa saja. Ada juga yang berpakaian ala musisi modern, kadang kepalanya berangguk-angguk ketika dia melintasi simpang empat itu. Jika angukannya cepat dan kendaraannya pun melaju kencang, bisa juga sebaliknya. Seakan antara anggukan kepalanya dan tarikan gas pada kendaraanya sedang memainkan melodi dengan harmoni yang serupa.
Hari ini, dengan sepeda motorku aku menuju tempat kawanku, tak jauh dari simpang empat itu. Di tengah perjalanan rintik-rintik hujan membasahi bumi. Tak terasa aku sudah sampai di simpang empat itu. Tersenyum aku melihat lampu hijau yang terang benderang. Kupacu terus sepeda motorku, tapi entah dari mana datangnya sepeda motor itu. Seperti kekasih yang lama tak berjumpa, sepeda motornya mencium sepeda motorku. Sayang tak seperti ciuman sepasang kekasih yang terasa lembut dan bermakna, ciuman kali ini terkesan kasar dan tak sengaja.
Aku dan sepeda motorku hanya mengalami sedikit lecet dan goresan. Orang yang menabrakku sudah meminta maaf tadi. Kata orang-orang, sekarang sering terjadi kecelakaan di simpang empat itu. Kata mereka lampu lalu lintasnya “korslet”. “Tadi
harusnya, disisi jalanmu merah maka disisi jalan yang lain hijau. Tapi yang terjadi malah dua-duanya hijau.” begitu penjelasan salah satu dari orang-orang itu.
Rintikan hujan tak lagi bermain dalam tempo yang lambat. Sekarang nampaknya sang empunya hujan ingin bermain di tempo cepat. Rintiknya pun berubah menjadi tetesan-tetesan besar dalam tempo yang cepat. Hujan semakin deras, kuputuskan untuk mampir ke warung kopi di sudut simpang empat itu.
Sambil menikmati kopi panas, ku lihat warna lampu sialan yang membuatku celaka. Warna hijau itu, nampak benderang disana. Cahayanya seakan berbicara kepadaku “Aku lah sang penguasa simpang empat ini”. Hujan dan bau tanah yang basah, biasanya mengantarkanku pada imagi bernuansa romantis. Tapi kali justru imagi, tentang warna-warna lampu lalu lintas yang terlintas di kepalaku. Terbayang warna-warna lampu itu bertengkar, ketika orang-orang akan memperbaikinya.
“Mau apa kau datang kesini” Tanya si hijau pada si kedua lampu baru.
“Aku, kesini untuk menyeimbangkan, apa yang seharusnya diseimbangkan” Jawab si kuning mengingatkan,
“Tak lihat kah kau bahwa daerah ini telah menjadi kekuasaanku selama ini ? aku yang mengatur disini, dan kalian tak boleh ada disini.”
“Aku datang untuk menghentikan semua ini, bukankah kita harus saling melengkapi ?” kata si merah. “Nyalaku akan datang ketika aku melihat kau semakin tega untuk menyala dan mencelakakan yang lainnya” lanjut si Merah makin tegas.
“Kalopun kalian mau masuk, kalian harus menjadi sepertiku. Kekuatan kalian bukan untuk menampilkan warna baru tapi menambah benderang cahayaku”
“Kau pikir rumah ini hanya milikmu. Dulu kami pernah ada disini, kau mematikannya. Seharusnya kau ingat rumah ini diciptakan untuk kau, dia dan aku” kuning makin tegas mengingatkan.
“Dahulu mereka mengangap, nyalamu mempermudah bergerak tanpa hambatan, karena nyalamu berarti jalan terus. Tapi seiring waktu mereka akan paham bahwa nyalamu akan membawa petaka jika dibiarkan merajalela” jelas sang Merah
“Nyalaku sudah cukup untuk memberitahukan orang untuk berhati-hati, tanpa menyetop kendaraannya. Merah pun bisa memberikan warnanya agar orang berhenti” Jelas si Kuning. “Jadi jelas kalau kau berpikir bahwa kau tak membutuhkan kami, kau salah wahai kawanku si hijau yang malang. Yang tak membutuhkanmu adalah kami”
Lamunanku terhenti ketika terdengar bunyi kendaraan yang berciuman. Ketika itu hujan mulai reda, orang-orang segera berlari menuju sumber suara. Akupun berlari, terlihat olehku dua orang yang sering ku amati ketika melintasi simpang empat itu, pria bersarung dan pria dengan dandanan ala musisi modern. Mereka rupanya yang menjadi korban kali ini.
Warga telah menghentikan mobil itu, memintanya untuk membawa kedua orang itu ke rumah sakit terdekat. aku segera melunasi kopiku dan kembali memacu kendaraanku. Kembali terlihat sekilas warna hijau itu nampak benderang dengan congkaknya. Kecongkakan yang kembali mengantarkan aku pada lamunan, satu yang teringat dari lamunanku lontaran akhir dari si kuning.
“Jadi jelas kalau kau berpikir bahwa kau tak membutuhkan kami, kau salah wahai kawanku si hijau yang malang. Yang tak membutuhkanmu adalah kami” (navatu)
