Surat untuk Rie

•Desember 28, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

9 – 12 – 2007

Rie, Aku tadi siang melancong ke pantai pelelangan ikan, bersama kawan kawan. Ramai orang disana, berlalulalang, bersenda gurau dan bercengkerama. Pasar ikan penuh sesak orang tawar menawar mencari harga yang tepat. Sementara yang ditawar terbujur kaku, dengan mata melotot, dingin. Hanya bau amisnya yang tertinggal. Entah berapa kilo ikan yang kuhabiskan sore itu bersama para kompanyonku.

Eh, lucu juga kalau kupikir, pak nelayan bersusah – payah semalam suntuk begadang mencari ikan di laut lepas. Sementara angin selatan bertiup dengan kejinya menembusi tubuh tubuh rapuh dan legam itu. Kita hanya tinggal menikmati hasil tangkapan jala mereka sambil duduk dan bersenda gurau. Kalau saja aku bisa ikut merasakan ikhtiar mereka di laut, mungkin nikmatnya akan menjadi berlipat lipat tak terbayangkan. Seperti saat aku mengumpulkan keberanian untuk mengajakmu keluar hari sabtu kemarin. Hei, aku bisa bangun pagi hari itu…..

Setelah perutku ini kenyang penuh ikan aku mengimbit ke pinggir pantai. Aku rebahkan diriku di buritan sampan nelayan yang asak bau amis ikan dan keringat. Tahu tidak Rie, matahari sedang tersipu malu di balik awan tebal yang menggulung di langit. Siang itu hanya tersisa angin laut yang dingin, walau tidak sedingin di waktu malam. Mataku terpejam, sementara imajiku mendendangkan lagu “Babe” dari STYX yang kau putar sore itu di kamarku. Seolah – olah lirik lagu itu mengangankan ada dirimu disini. Egoiskah kalau seandainya aku berharap dirimu seperti itu juga?…

Kau masih ingat si Angga, Rie?. Dia sedang berlarian bertelanjang kaki kesana kemari. Dia melompati sampan sampan nelayan yang berjajar tidak begitu rapi dengan lincahnya. Kakinya meninggalkan jejak jejak mungil di pasir pantai yang penuh tebaran sampah dengan berbagai macam warna – warninya. Kuamati terus dirinya. Senyumnya tidak pernah berhenti mengembang seperti langkah kecil kakinya yang seperti melaju tanpa akhir. Dia bebas, Rie.

Aku beranjak dari sampan itu, lalu berdiri diatas pasir yang lembut dan rapuh ditimpa tubuhku. Aku ratakan pasir yang bergelombang tak teratur di bawah kakiku, hingga berbentuk persegi empat. Setelah kurasa cukup, aku mengambil setangkai ranting kering dan kuruncingkan ujungnya. Di ujung sebelah atas pasir yang aku ratakan tadi, aku mengukir namamu. Sedang di ujung sebelah bawahnya kuukir namaku sendiri. Di antara ukiran ukiran tadi kubuat sebuah gambar. Tidak begitu simetris memang, gambar itu. Tapi kurasa cukup jelas bagi siapa saja yang melihatnya, bahwa gambar itu berbentuk hati. Tak terasa sesimpul senyum mengembang dari bibirku.

Aku merasa seperti seorang anak kecil yang baru mengalami afeksi untuk pertama kalinya. Aku sendiri bingung, apa aku ini masih kanak kanak di dalam hatiku? Tapi kukira, bukankah kita semua anak atau budak dari kehidupan? Kita semua budak Rie, tapi budak yang merdeka. Budak yang bebas untuk menentukan hidup seperti apa yang akan kita hambakan. Jangan sampai kita menjadi munafik yang hanya bisa menjiplak, layaknya seonggok tubuh tak berjiwa.

Langit sudah beranjak gelap, lembayung perlahan lahan mulai surut di ufuk barat. Sang mega meneteskan air setitik demi setitik. Kami berlalu dari pesisir menuju lereng merapi. Holden merah tua itu melaju tersendat sendat didera hujan.

Air hujan merembes sedikit sedikit masuk ke dalam mobil. Aku mulai lukiskan lagi apa yang tadi kuukir di pasir pantai, tapi kali ini di batinku. Karena aku yakin, entah air hujan atau ombak pasang pasti telah mengikis habis ukiran yang kubuat tadi. Sambil kucoba pelan pelan membunuh hasrat untuk meminta imbalan, kalaupun bisa.
Di luar hujan masih saja deras. Orang – orang menepi, berlindung di bawah atap di pinggir jalan. Dari radio sayup sayup mengalun lagu dari YES, kusulut sebatang sigaret lalu kuhisap dan kuhembus asapnya pelan. Datar. Kering…….. (9.0.1.2.5)

If ever I needed someone,
You were there when I needed you.
You save me from falling,
Save me from falling.
I`m so in love with you…..
(Final Eyes, written by: Trevor Rabin, Tony Kaye, Jon Anderson & Chris Squire. Performed by:YES)

*Inspired by Pramoedya Ananta Toer Novel

PS: #Tulisan ini cocok dinikmati sambil mendengarkan beberapa rekomendasi lagu dibawah ini :
1. YES – Final Eyes
2. Marillion – No One Can
3. Van Halen – Love Walks In
4. STYX – Babe
5. Slaughter – You Are The One
6. Skid Row – I Remember You
7. Journey – It`s Just The Rain
8. Bad English – When I See You Smile
9. Soendari Soekotjo – Nandang Wuyung
10. Chrisye – Seperti yang Kau Minta

Senandung Yang Melawan

•Desember 28, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sebatang rokok mild melekat di bibirnya. Dia menikmati rokok itu perlahan lahan. Sesekali kaos motif batik yang dipakainya di kibas kibaskan untuk melepas gerah. “Saat ini, kami sedang fokus untuk menyelesaikan album perdana Kromodiharjo yang sudah tertunda cukup lama”, ujarnya ringan. Diteruskannya lagi kegiatan menghisap rokok mild tadi. Merokok sepertinya sudah menjadi kewajiban bagi dia.
Pemuda berumur 21 tahun itu, sejak masih SMU biasa dipanggil Waway oleh kawan kawannya. Penampilannya selalu semau sendiri. Celana jinsnya bolong, sudah bertambal di sana – sini. Jaket jins yang tidak kalah keruan bentuknya selalu tersandang di tubuh. Rambutnya dipotong ala Rod Stewart. Kesannya seperti seorang pemalas kelas wahid memang. Tapi saat ditanya tentang konsep album perdana Kromodiharjo, dia menjawab dengan berapi api.
“Untuk musik, mungkin kami lebih cocok jika masuk ke dalam genre melodict punk. Karena memang cenderung kesana musiknya”.
“Tapi tetap ada unsur unsur musim lain dalam musik kami, seperti Rock `n Roll, Oi street punk, dan juga riff – riff gitar ala speed metal. Karena memang kami bertiga memiliki referensi yang berbeda.” Lanjutnya sumringah.
Kromodiharjo terbentuk sudah cukup lama, sejak Desember tahun 2004. Sejak awal berdiri hingga sekarang mereka sudah berkali kali bongkar pasang personil. Hingga saat ini tinggal tersisa tiga orang saja yang masih bertahan.
“Pada awalnya hanya aku dan otenk saja. Dulu sih namanya masih Top Day, trus berubah jadi Kromodiharjo waktu kami main di launching album Kepal S.P.I.”
Sejak saat itu mereka sering melanglang dari satu acara ke acara lainnya. Dari panggung kampus sampai ke trotoar pinggir jalan. Dari acara gratisan antar teman hingga dibayar dengan pisang setandan.
“Mungkin kami lebih banyak merasakan susah di Kromodiharjo. Jadi saat kami mengalami konflik, seperti perginya beberapa personil yang posisi dan sumbangsihnya cukup krusial bagi band, kami bisa tetap bertahan.” Ujarnyanya pelan.
Mata waway menerawang, dia menyulut lagi sebatang rokok mild terakhir. Dia remas bungkusnya yang sudah kosong. Dibuangnya remasan itu ke lantai kamar yang memang sudah kotor penuh ceceran puntung rokok. Sambil menghisap rokoknya dia berkata,
“Untuk saat ini target utama kami adalah mengeksiskan diri dengan cara menyelesaikan album tadi.Biar semua orang tahu kami masih bisa tetap bertahan dan ngelawan diterpa berbagai masalah, baik dari internal band maupun eksternal”, dia berkata optimis.
“Juga kami sendiri masih berharap agar pak vokalis kami tercinta mau kembali ke band ….hehehe”, dia mengakhiri pembicaraan sore itu, lalu bangkit dan menuju ke WC. “Mau buang hajat besar dulu ya…”.  (9.0.1.2.5)

RUMAHKU ISTANAKU

•Desember 28, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sedari awal kelahiranku, aku berharap dapat dibesarkan dan dibimbing oleh orang tua yang bijak. Dan betapa beruntungnya aku, Begitu kulahir aku merasakan kasih sayang yang teramat sangat besar dari orang tuaku. Kasih sayang itu pun bukan hanya berlaku pada ku saja, tetapi perlakuan yang sama diberikan kepada seluruh saudara-saudara ku. Apa saja yang kami inginkan selalu di turuti oleh mereka, semua fasilitas pasti kami dapat jika kami mengingin kan nya.
Tetapi ada satu hal yang kami ingin kan dan belum tercapai sampai saat ini. Kami ingin sekali memiliki rumah sendiri, walau pun rumah itu hanya terbuat dari gedek bambu, beralaskan tanah dan beratap jerami, kami siap untuk itu. Kami akan sangat bahagia jika apa yang kami harapkan sejak lama dapat ter realisasikan. Rasa nyaman dan rasa kekeluargaan akan lebih terasa kental.
Walau pun rumah kami saat ini terbuat dari sangkar emas dan di hiasi dengan lampu-lampu berlian yang menyilau kan, tetapi apalah guna nya kalau hak-hak dan kebebasan kami terpenjara oleh sang pemilik rumah.
Empat tahun telah berlalu, wajah-wajah baru dalam keluarga ku mulai bermunculan, rumah ini pun semakin tak nyaman lagi rasa nya. Aku merasakan beban yang teramat besar di jiwaku, aku gak pengen hal-hal yang buruk di alami oleh saudara-saudara ku yang baru. Tetapi jika aku sendirian, aku gak mampu membebaskan mereka. Apa yang harus ku perbuat???
Orang tua ku yang ku anggap mampu untuk mengayomi keluarga ini, semakin lama semakin menjauh dari kami. Mereka terkesan tidak perduli lagi dengan kami, fasilitas yang kami dapat pun tidak sebaik dahulu. Akibat nya saudaraku mulai gak betah di rumah ini, mereka selalu keluar untuk mendapat apa yang mereka ingin kan.
Suatu ketika beberapa dari saudara baru ku ber tanya ‘’kenapa kita harus tinggal di tempat seperti ini??sepertinya kita mampu untuk memiliki rumah sendiri, tetapi mengapa kita harus tinggal di tempat orang lain??emang orang tua kita kemana sih??’’Rasa sedih, gundah dan kebingungan ku alami saat itu, apa yang harus ku katakan??harus kah aku mengatakan yang  sejujur nya??atau harus kah aku membohongi nya untuk menutupi aib keluarga??’’tetapi ku fikir mereka harus tau kondisi ini.
Tanpa fikir panjang ku ungkapkan apa yang terjadi sebenar nya, tersontak kaget mereka mendengar pernyataan itu Tetapi memang ini lah kenyataan yang terjadi. Tak lama waktu berselang, beberapa dari mereka mangajak ku untuk membuat sebuah forum di tingkatan kami yang di khusus kan untuk membahas hal ini.
Lama banget rasa nya gak ngerasain hal seperti ini, aku bahagia karena semua sau dara berkumpul dan ngobrol bareng di sini. Ternyata dugaan ku terhadap mereka melenceng, tadi nya aku ber fikir bahwa mereka sudah tidak perduli lagi dengan keluarga ini. Ternyata dalam realita yang ku temui mereka masih mau diajak kerjasama untuk memikir kan keluarga besar ini.
Ikatan persaudaraan semakin di eratkan sehingga tidak ada lagi yang saling bermusuhan dan semua dapat untuk saling menghargai. Dalam beberapa kali perbincangan kami menyatakan bahwa kami telah siap untuk memiliki rumah sendiri, walau rumah itu tidak se bagus saat ini tetapi kami telah siap. Kami gak tahan lagi hidup terbelenggu seperti ini,  kami gak mau lagi tinggal di tempat ini. Saat ini kami nyatakan dengan tegas bahwa kami ingin pindah dari tempat ini, kami ingin RUMAH SENDIRI SEKARANG JUGA.  ( I AM A PIG MAN )

•Desember 28, 2007 • 1 Komentar
Waktu untuk berdua.
Selaga yang ada maupun tidak ada
Maupun dalam jiwa belenggu cinta
Waktu meraungi selaga yang gemercik
Pemecah ikatan jiwa dalam arsa
Mengganggu kehidupan yang nyata
Berbalik menghentarkan massa
Udara pun sudah tidak dapat di hirup erat-erat
Melainkan tabungan-tabungan
Yang pernah menjadi aset kematian
(A…)
Mengalir di kekeringan
Sang hujan pun melambai dari kejauhan
Jatuhkan butiran-butiran sang lendir
Memanfaat kan waktu untuk berenang
Di telaga yang penuh api
Menembus keheningan dalam hati
Yang tak sanggup diungkapkan
Hati sang pemusnah percikan api
Di masa jalan tak berteman
Oleh kita membutakan
Hati goresan darah.
(A…)

BENDERA PUTIH

•Desember 28, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Melayang dalam hening
Tanpa sinar mentari
Kegelapan melanda
Terasa semakin sakit

Tetesan darah terus mengalir
Bagai hujan di terpa badai
Gempuran terus menerpa
Seakan terhanyut dalam luka

Semangat membara
Menghilangkan semua rasa
Pertempuran baru di mulai
Bangkit, Busungkan dada

Katakana tidak
Tidak untuk mundur
Tidak untuk menyerah
Dan tidak
Mengibarkan bendera putih

 (I`m A Pig Man)

KUPINJAM PUNYAMU

•Desember 28, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

10 Desember 2007 @#%$#! Hari ini aku berada dibawah tiang bendera, tetapi aku melihat bendera itu seakan setengah tiang tingginya. Walaupun bendera itu berwarna paling jernih dan berukuran paling kecil tetap saja enak dipandang. Terbanyang nasib temanku yang sekarang tersibukan dengan urusan tulis-menulis, berkutat dengan dosen pembimbingnya dan mengeluh padaku
“ hah…. Pusing aku ngurusin KKN, Skripsi, dan tetek…bengeknya.”
Aku hanya tertawa geli melihat raut kepayahannya, sampai terlintas dikepalaku “ *%@# Paijo R’mutu S.sos ; Paijo R’mutu S.Psi ; Paijo R’mutu S.Psisos *&%#@%  ah……. gak ngertilah, mau P.sisos mau P.sosis sekalipun aku g’ perduli, toh juga bukan aku yang jadi kelinci percobaannya. Biarin aja yang angkatan atas lulus duluan, baru tar kalau sukses juga nama kami bagus, titelnya kan berbeda dengan yang lainnya jadi mudah dikenali. Yess…. beruntungnya diriku !!!!. Tapi, kalau para penerima pekerja baru itu, malah meragukan lulusan yang bertitel aneh-aneh dan belum teruji kualitas dalam kerealitasnya, terus kakak angkatanku jadi luntang-lantung tak jelas gimana ???? terus responsibilitasnya harus ditanggung siapa ?? ah…. G’usah mikirin. Paling kalau ini terjadi, bisa jadi pelajaran bagi orang-orang atas yang sudah aku bayar buat makanin anak dan istri mereka, bikin fakultas baru bagi kami.
“oi……… orang dicurhatin kok malah ngelamun,
Pake senyum-senyum lagi, seneng ya ngeliatin aku sengsara ??”
Aku tersentak kaget, belum lagi mulut ini melancarkan sanggahan, dia sudah berdiri dan menoleh padaku, dengan wajah sayu tetapi dalam jauh matanya tersiratkan sedikit semangat.
“aku pergi rapat dulu yo, dah di SeMeSes nih.”
Lalu melangkah pergi ditelan tetanggaan ruang gedung bertingkat tiga itu.
Sedangkan aku masih resah, berjubel pertanyaan, kekhawatiran, kemarahan, tapi yang paling mencekam adalah rasa pesimisku tentang masa depan aku dan teman-temanku. Yah….. walaupun ada beberapa orang yang g’ aku sukai atau malah sebaliknya tapi, aku tetap sayang mereka, g’ tahu kenapa aku pengen berjuang memajukan tempat kuliahku bukan hanya untuk diriku tetapi untuk mereka, mungkin si Paijo pun juga begitu.  Pernah satu kali aku bertanya        “ ngapain sih kamu sibuk mondar-mandir ngurusin organisasi kaya kuliahnya dah beres aja???”
Sejurus aku bingung  menagkap mukanya yang senang dan bersemangat. Karena sejujurnya ini adalah kritikan dan cercaanku untuknya, aku berharap memperoleh muka penyesalan dari dia. “Kita ini manusia yang tak bisa hidup abadi, maka buatlah apapun seabadi mungkin untuk mereka dari kita.”
Aku sudah tak tahan dengan lamunanku yang semakin kering tersedot aura kata-katanya yang sampai sekarang  tak aku mengerti.

14 Maret 2011 !#$^ Sebuah gedung yang agaknya lebih kecil bila dibanding lainya tetapi, sarat dengan bebauan aroma cat yang tiga hari lalu selesai melumurinya, dikarenakan sudah banyak cat yang mengelupas terbantai oleh cuaca yang tidak menentu sejak pertama kali dia memperawani tembok yang masih abu-abu 2 tahun lalu. Aku berjalan setengah berlari menaiki tangga, hampir-hampir menginjak ruang kelas, aku terkagetkan dengan panggilan yang sangat familiar dari arah samping kanan, aku menoleh dan mengurungkan pijakanku lalu berpaling kearahnya
“ Ya..ada apa pak ??” kataku,

“Judulmu sudah bagus, tetapi pada bagian tesis tolong lebih dikembangkan lagi mengenai jenis dan klasifikasinya.”

“oh.. iya pak… siap !!,
Pak saya permisi dulu, mau masuk kelas.”

“Nah gitu dong… rajin masuk, jangan bolos terus, dijaga absensinya, apa kamu g’ kepengen punya nama panjang S.sos seperti temen-temen angkatan kamu yang lain ?” Sambil menepuk pundakku dia berkata. Aku hanya tersenyum, lalu kami berpisah, dia masuk keRKU 01 sedangkan aku masuk ke RKU 02. Duduk di kursi deretan belakang yang di takdirkan untuk memopang pantatku ini, karena dari 40 kursi diruangan itu hanya kursi tersebutlah yang tak berpenghuni.
“Mas dapat salam dari kakaknya Tukiyem.”

“Tukiyem…. Tukiyem yang mana sih ?”

“Itu lho anak kelas D yang pas MAKASI’11 pingsan ditengah hutan.”

“oh…. Anak itu, memang nama kakaknya siapa sih???”

“aku juga g’ tahu, tapi katanya dulu seangkatan sama mas.”

“ya udah lah, ntar tak Tanya sendiri sama….
Siapa tadi…???”

“Tukiyem mas…. Anak kelas D” katanya agak ketus, seakan menyindirku yang sudah tua dan agak pikun ini.
Dua SKS kulalui tanpa ada satupun kata mbak dosen yang masuk dikepalaku, Kepalaku dipenuhi rasa penasaran tentang salam tadi. Tapi aku berharap itu adalah Si Paijo R’mutu yang sekarang sudah ada embel-embelnya S.sos, aku sangat ingin mengajaknya ngopi sambil ngobrol tentang kehidupan, pengalaman, dan tetek bengeknya, dan disela obrolan itu aku mungkin akan berkata “Kita ini manusia yang tak bisa hidup abadi, maka buatlah apapun seabadi mungkin untuk mereka dari kita. Sehingga mereka dapat membuat sesuatu yang abadi untuk mereka yang lain. Sory yo, kalau aku pakai kata-katamu, walaupun aku tambahin bumbu dikit biar agak beda, he..heeheee” lalu bercerita mengenai seringnya aku menceritakan tentang perdebatanmu dengan ka.prodi tentang pendapatmu bahwa, prodi harus lebih bisa mengambil sikap tegas mengenai masa depan prodi kita, apakah akan terus bersimbiosis komensalisme dengan format fakultas yang seperti ini ataukah berpisah dan menjadi fakultas sendiri, karena kami selaku mahasiswa sudah bersiap dan bersikap. Hal ini harus disikapi sesegera mungkin,  mengingat akan segera ada sarjana perdana sedangkan belum jelas title dan kredibilitasnya. Dan aku paling ingat kata-kata umpatanmu yang terasa mancacah hati seraya meletupkan semangat “kami malu mempunyai orang tua yang karakternya tak tangguh…!!!!”. Aku juga ingin mengatakan dua kenyamanan yang baru dia rasakan setengahnya saja. Satu hal tentang nyamannya kebebasan, satu hal lagi tentang nyamannya duduk dikursi ruangan gedung baru di antara 2x lipat hiruk pikuk adek-adek mahasiswa baru jaman dulu.

( No_Pie* )

Simpang Empat

•Desember 28, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Aku selalu melewati simpang empat itu jika ingin menuju ke tempat kawanku. Ada berbagai macam orang disitu, yang bisa kuamati. Lampu lalu lintas di sudut jalannya, membantu aku mengamati berbagai macam orang. Dari cara berpakaiannya saja, aku bisa menemukan bermacam orang yang melintasi simpang empat itu.
Ada seorang yang mengenakan sarung, menjelang tengah hari dia akan memacu kendaraannya cepat-cepat. Tak lama setelahnya si orang bersarung ini lewat lagi, sekarang kecepatan kendaraannya biasa-biasa saja. Ada juga yang berpakaian ala musisi modern, kadang kepalanya berangguk-angguk ketika dia melintasi simpang empat itu. Jika angukannya cepat dan kendaraannya pun melaju kencang, bisa juga sebaliknya. Seakan antara anggukan kepalanya dan tarikan gas pada kendaraanya sedang memainkan melodi dengan harmoni yang serupa.
Hari ini, dengan sepeda motorku aku menuju tempat kawanku, tak jauh dari simpang empat itu. Di tengah perjalanan rintik-rintik hujan membasahi bumi. Tak terasa aku sudah sampai di simpang empat itu. Tersenyum aku melihat lampu hijau yang terang benderang. Kupacu terus sepeda motorku, tapi entah dari mana datangnya sepeda motor itu. Seperti kekasih yang lama tak berjumpa, sepeda motornya mencium sepeda motorku. Sayang tak seperti ciuman sepasang kekasih yang terasa lembut dan bermakna, ciuman kali ini terkesan kasar dan tak sengaja.
Aku dan sepeda motorku hanya mengalami sedikit lecet dan goresan. Orang yang menabrakku sudah meminta maaf tadi. Kata orang-orang, sekarang sering terjadi kecelakaan di simpang empat itu. Kata mereka lampu lalu lintasnya “korslet”. “Tadi
harusnya, disisi jalanmu merah maka disisi jalan yang lain hijau. Tapi yang terjadi malah dua-duanya hijau.” begitu penjelasan salah satu dari orang-orang itu.
Rintikan hujan tak lagi bermain dalam tempo yang lambat. Sekarang nampaknya sang empunya hujan ingin bermain di tempo cepat. Rintiknya pun berubah menjadi tetesan-tetesan besar dalam tempo yang cepat. Hujan semakin deras, kuputuskan untuk mampir ke warung kopi di sudut simpang empat itu.
Sambil menikmati kopi panas, ku lihat warna lampu sialan yang membuatku celaka. Warna hijau itu, nampak benderang disana. Cahayanya seakan berbicara kepadaku “Aku lah sang penguasa simpang empat ini”. Hujan dan bau tanah yang basah, biasanya mengantarkanku pada imagi bernuansa romantis. Tapi kali justru imagi, tentang warna-warna lampu lalu lintas yang terlintas di kepalaku. Terbayang warna-warna lampu itu bertengkar, ketika orang-orang akan memperbaikinya.
“Mau apa kau datang kesini” Tanya si hijau pada si kedua lampu baru.
“Aku, kesini untuk menyeimbangkan, apa yang seharusnya diseimbangkan” Jawab si kuning mengingatkan,
“Tak lihat kah kau bahwa daerah ini telah menjadi kekuasaanku selama ini ? aku yang mengatur disini, dan kalian tak boleh ada disini.”
“Aku datang untuk menghentikan semua ini, bukankah kita harus saling melengkapi ?” kata si merah. “Nyalaku akan datang ketika aku melihat kau semakin tega untuk menyala dan mencelakakan yang lainnya” lanjut si Merah makin tegas.
“Kalopun kalian mau masuk, kalian harus menjadi sepertiku. Kekuatan kalian bukan untuk menampilkan warna baru tapi menambah benderang cahayaku”
“Kau pikir rumah ini hanya milikmu. Dulu kami pernah ada disini, kau mematikannya. Seharusnya kau ingat rumah ini diciptakan untuk kau, dia dan aku” kuning makin tegas mengingatkan.
“Dahulu mereka mengangap, nyalamu mempermudah bergerak tanpa hambatan, karena nyalamu berarti jalan terus. Tapi seiring waktu mereka akan paham bahwa nyalamu akan membawa petaka jika dibiarkan merajalela” jelas sang Merah
“Nyalaku sudah cukup untuk memberitahukan orang untuk berhati-hati, tanpa menyetop kendaraannya. Merah pun bisa memberikan warnanya agar orang berhenti” Jelas si Kuning. “Jadi jelas kalau kau berpikir bahwa kau tak membutuhkan kami, kau salah wahai kawanku si hijau yang malang. Yang tak membutuhkanmu adalah kami”
Lamunanku terhenti ketika terdengar bunyi kendaraan yang berciuman. Ketika itu hujan mulai reda, orang-orang segera berlari menuju sumber suara. Akupun berlari, terlihat olehku dua orang yang sering ku amati ketika melintasi simpang empat itu, pria bersarung dan pria dengan dandanan ala musisi modern. Mereka rupanya yang menjadi korban kali ini.
Warga telah menghentikan mobil itu, memintanya untuk membawa kedua orang itu ke rumah sakit terdekat. aku segera melunasi kopiku dan kembali memacu kendaraanku. Kembali terlihat sekilas warna hijau itu nampak benderang dengan congkaknya. Kecongkakan yang kembali mengantarkan aku pada lamunan, satu yang teringat dari lamunanku lontaran akhir dari si kuning.
“Jadi jelas kalau kau berpikir bahwa kau tak membutuhkan kami, kau salah wahai kawanku si hijau yang malang. Yang tak membutuhkanmu adalah kami”  (navatu)